Perjalanan ke Segara Anakan, Pulau Sempu ini berawal dari sebuah ide untuk menghabiskan waktu liburan di akhir tahun 2010. Idenya adalah liburan hemat dan seru. Setelah saling berbincang ringan, saya dan teman lainnya memutuskan untuk mengunjungi kota Malang di Jawa Timur, dan dilanjutkan ke Pulau Sempu.
Hari itu, 30 Desember 2010, kami bertolak ke Malang dari Stasiun Senen, Jakarta dengan menggunakan kereta ekonomi Matarmaja, cukup dengan membayar tiket kereta api sebesar Rp 51.000,- . Kondisi kereta api Matarmaja ini cukup penuh karena kami berbarengan dengan para suporter sepakbola dari Malang (Aremania) yang ingin pulang ke kampung halamannya setelah selesai menyaksikan piala AFF di hari sebelumnya. Sekedar berbagi tips, kereta api ekonomi ini cukup nyaman apabila kita kebagian tempat duduk. Oleh karena itu usahakan setidaknya datang 2-3 jam sebelum jadwal keberangkatan kereta untuk mendapatkan tempat duduk, karena biasanya diberlakukan sistem “terserah duduk dimana”, apalagi pada waktu-waktu liburan atau akhir minggu.
Kalau untuk masalah perut, kereta api ekonomi cukup bisa diandalkan. Pedagang asongan mulai dari yang menjual tissue, kopi, mie instan, pecal, hingga nasi selalu siap sedia di atas kereta. Mereka akan setia menemani kita dalam perjalanan.
Sekitar pukul dua siang, Matarmaja mulai bergerak menuju Malang. Berkeretaapi bareng dengan suporter sepakbola memiliki nilai plus dan minus. Plusnya suasana kereta yang selalu hangat dengan atmosfersuporter, mulai dari bernyanyi bareng hingga candaan khas mereka. Minusnya adalah lemparan batu. Yap, lemparan batu. Saya baru mengetahui bahwa suporter Aremania (Arema Malang) ini “tidak cocok” dengan suporter Viking (Persib Bandung), suporter Persik Kediri, dan Bonek (Persebaya Surabaya). Begitu Matarmaja memasuki stasiun yang wilayah Jawa Barat, kami dihujani lemparan batu oleh warkamser (warga kampung sekitar). Yang lebih parahnya, terkadang para suporter yang biasanya berada di atas kereta apilah yang terkesan memprovokasi warga sekitar.
“Viking anj*ing, Arema anj*ng,” kata ini saling bersahutan antara para suporter di Matarmaja dengan warga yang tinggal di dekat rel, tentu saja dengan lemparan batu. Yang membuat saya mengurut dada, ternyata suporter di atas kereta api sudah menyiapkan batu, apabila mereka dilempar.
“Kami ndak tau tradisi ini kapan dimulai, yang pasti Aremania itu ndak cocok dengan Viking, Persik dan Bonek. Aremania itu konco kentalnya The Jakmania (Persija Jakarta),” ungkap seorang suporter Arema yang duduk di depan saya.
Sekitar pukul 1 dini hari, Matarmaja sudah memasuki daerah Solo. Saat itu, saya sedang tertidur cukup pulas. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh bunyi berdebam keras yang mengenai kereta api yang kami tumpangi. Sedetik kemudian, kaca jendela yang tepat berada di tempat duduk saya pecah, (bisa dibayangkan jika saya bersandar di jendela tersebut, muka saya juga akan ikut hancur). Semua penumpang kereta api di gerbong saya terbangun dan langsung menunduk, kereta api dilempari batu oleh orang tak dikenal. Setelah dicek, ternyata suporter Pasoepati Solo yang melempari kami.
Mereka mengira suporter yang ada di Matarmaja ini berisi bonek-bonek Surabaya. Pasoepati “tidak cocok” dengan bonek Persebaya, sehingga mereka melempari kereta api ini. Setelah mengetahui bahwa penumpangnya bukan bonek melainkan Aremania, para Pasoepati pun minta maaf. Cukup sederhana memang, setelah lemparan batu yang hampir menghancurkan muka saya. Seorang teman bercanda dengan mengatakan bahwa apabila kita berkeretaapi ekonomi dengan suporter, maka siap-siaplah merasakan atmosfer perang di jalur Gaza, Timur Tengah yang penuh akan lemparan-lemparan batu dan bom molotov. (Foto menampilkan kaca jendela yang retak akibat lemparan suporter sepakbola).
Seorang teman yang anak Malang mengungkapkan, kejadian lemparan batu tersebut bisa lebih parah lagi apabila Matarmaja ini memasuki daerah Kediri, wilayahnya suporter Persik. Dia bercerita bahwa suporter Arema Malang dan Persik Kediri pernah terlibat keributan antar suporter yang cukup parah yang polisi sekitarnya saja cukup susah untuk menghentikannya. Mendengar ceritanya, membuat saya tidak merasa ngantuk sama sekali. Untunglah tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan begitu Matarmaja memasuki daerah Kediri.
“Sebenarnya bakalan gak terjadi apa-apa, kalo kita gak bareng suporter,” ungkap teman saya asal Malang tersebut.
Sekitar pukul tujuh pagi, Matarmaja sampai di Stasiun Kota Lama, Malang. Perjalanan menuju Sempu pun akan dimulai. (Foto: Stasiun Kota Lama, Malang)


walah, tak sabar nunggu yang bagian kedua nya
Wahahahahahah
Kangen matarmaja!!
Hohohoho
‘pecel’ did, bukan ‘pecal’
@ isnu: Kapan lagi nih kita bertualang?
@ tatat: Kalo di Medan itu emang Pecal… Heheeee
@mupi: Sabar ya gan, nunggu mood dulu