Inang-inang Penjual Semangka

Suatu siang yang terik di Pasar Sukaramai, Medan. Seorang pemuda tanggung hendak membeli semangka yang akan digunakannya sebagai pencuci mulut di saat waktu berbuka. Setelah melihat-lihat, dia pun terhenti di sebuah “lapak” buah milik seorang wanita (Inang: Bahasa Batak) paruh baya keturunan Batak Toba asli.

Pembeli: “Inang, aku mau beli semangka yang manis dan merah, tiga bijik ya..”

Inang-inang: “Ya, kau pilih aja lha dek terserahmu. Merah-merah semua ini semangka                                 yang kujual.”

Pembeli: “Pilihkan lha dulu inang, aku gak pande milihnya. Aku yakinnya sama pilihan                             inang.”

Inang-inang: “Ya udah lha kupilihkan yang paling merah dan manis buatmu ya..”

Setelah beberapa saat, inang-inang penjual semangka pun memberikan tiga buah semangka yang menurutnya paling merah dan manis.

Inang-inang: “Ini dek, tiga bijik semangkanya. Mau kucongkel dikit, biar kau lihat                                           merahnya semangka ini, terus kaw rasa manisnya..”

Pembeli: “Ah, gak usah lha inang, udah percayanya aku sama inang. Aku mau cepat ini,                        aku juga puasa jadi gak akan bisa aku rasa semangkanya. Jadi berapa semua                          ini inang?”

Inang-inang: “Tiga puluh ribu perak aja dek.”

Inang-inang tersebut kemudian mengaitkan ketiga semangka itu dengan tali dan menyerahkan kepada si pembeli. Dengan tergesa-gesa si pembeli mengalungkan ketiga semangkanya di setang sepeda motornya untuk segera pergi. Namun, karena suasana lalu lintas di sekitar pasar yang cukup ramai, sebuah pengendara sepeda secara tidak sengaja menyenggolnya sehingga si pembeli oleng, hilang keseimbangan, dan ketiga semangkanya pun ikut terbelah. Si pembeli pun tercengang karena ternyata ketiga semangka tersebut sama sekali tidak merah, malahan sedikit pucat. Dengan kesal dia pun menghampiri Inang-inang penjual semangka.

Pembeli: (Dengan nada suara yang sedikit ditekan) “Inaaang, kok gak merah ini semangkanya tiga-tiga? Malah pucat kayak gini warnanya.”

Inang-inang: (Dengan tenang menjawabnya) “Tadi semangka-semangka itu kebanting khan gara-gara kau disenggol sepeda? Jangankan semangka, kau pun pasti pucat kalo kebanting kayak gitu.”

Pembeli: &%$#@%^%$%^*$%#*%#!!!!

Advertisement

About priaberkacamata

Just a man with spectacles
This entry was posted in her. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s